Efisiensi Anggaran, DPRD Berau Minta Pembangunan di Tingkat Kampung Jangan Terpangkas
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kebijakan efisiensi anggaran kerap menjadi langkah yang tak terhindarkan di tengah tekanan fiskal daerah. Namun di balik upaya penghematan tersebut, ada kekhawatiran yang mengemuka bagi Wakil Rakyat Bumi Batiwakkal, di mana jangan sampai pembangunan di tingkat kampung justru menjadi “korban”.
Anggota DPRD Berau,
Gideon Andris, mengingatkan bahwa kebijakan efisiensi harus dijalankan dengan
penuh kehati-hatian. Ia menegaskan, program-program yang menyentuh langsung
kebutuhan dasar masyarakat tidak boleh ikut terpangkas.
“Keberadaan situasi
fiskal memang menuntut kita untuk melakukan penyesuaian. Tapi jangan sampai
program yang menyangkut hajat hidup orang banyak justru dikurangi,” ujarnya,
baru-baru ini dikantor DPRD Berau.
Menurut Gideon,
pembangunan di Kampung bukan sekadar agenda rutin pemerintah, melainkan fondasi
utama dalam menjaga kesejahteraan masyarakat. Di sanalah aktivitas ekonomi
warga bergerak, dan di sanalah dampak kebijakan pemerintah paling terasa.
Jika pembangunan di Kampung
terhenti, lanjutnya, maka dampaknya tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga
pada kondisi sosial dan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
“Kalau kampung tidak
dibangun, yang terdampak langsung adalah masyarakat kecil. Ini yang harus kita
jaga bersama,” tegasnya.
Ia menilai, salah
satu cara paling efektif untuk memastikan pembangunan tetap berjalan adalah
dengan berpegang pada hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).
Forum tersebut merupakan wadah aspirasi masyarakat yang mencerminkan kebutuhan
nyata di lapangan.
Bagi Gideon, usulan
dari Musrenbang bukan sekadar daftar keinginan, melainkan prioritas yang harus
diperjuangkan dalam penyusunan anggaran.
“Menurut kami
Musrenbang itu suara masyarakat. Apa yang diusulkan di sana adalah kebutuhan
riil, jadi harus tetap diprioritaskan,” katanya.
Di tengah
keterbatasan anggaran, ia mendorong Pemkab Berau untuk tetap memberikan porsi
pembangunan yang adil bagi setiap kampung. Setidaknya, satu hingga dua program
prioritas di tiap Kampung harus tetap direalisasikan agar masyarakat tidak
kehilangan harapan terhadap pembangunan.
“Minimal ada satu
atau dua program yang tetap berjalan di setiap kampung. Itu penting supaya
masyarakat tetap merasakan kehadiran pemerintah,” jelasnya.
Gideon juga menyoroti
pentingnya sinergi antara legislatif dan eksekutif dalam menyikapi kondisi ini.
Menurutnya, komunikasi dan koordinasi yang baik akan membantu menentukan
program mana yang benar-benar prioritas dan tidak bisa ditunda.
“Kami di DPRD terus
bersinergi dengan pemerintah daerah agar tetap selektif. Mana yang benar-benar
penting, itu yang harus didahulukan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia
memastikan bahwa DPRD Berau tidak akan lepas tangan dalam mengawal aspirasi
masyarakat. Hasil reses yang telah dihimpun menjadi dasar penting dalam
memperjuangkan program pembangunan yang berpihak kepada rakyat.
“Aspirasi masyarakat
itu bukan sekadar didengar, tapi harus diperjuangkan. Itu komitmen kami,”
tegasnya.
Di tengah dinamika
anggaran yang terbatas, Gideon mengingatkan bahwa efisiensi tidak boleh
dimaknai sebagai pengurangan semata, tetapi sebagai upaya mengalokasikan
anggaran secara lebih tepat guna dan berdampak.
Baginya, keberhasilan
kebijakan efisiensi bukan diukur dari seberapa besar penghematan yang
dilakukan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang tetap dirasakan masyarakat.
“Efisiensi itu bukan
berarti mengurangi kepedulian. Justru bagaimana dengan anggaran terbatas, kita
tetap bisa hadir untuk masyarakat,” tambahnya.
Di tengah tantangan
tersebut, satu hal yang menjadi garis tegas: pembangunan kampung tidak boleh
berhenti. Sebab di sanalah denyut kehidupan masyarakat Berau berlangsung setiap
hari. Jika kampung tetap bergerak, maka ekonomi daerah akan tetap hidup. Namun
jika kampung terabaikan, maka kesenjangan akan semakin melebar.
“Jangan sampai kebijakan efisiensi justru membuat masyarakat kecil tersisih. Itu yang harus kita hindari,” pungkas Gideon. (sep/FN/Advertorial )